Amsal 14:30

Iri Hati Membusukkan Tulang
Amsal 14:30

I. Pembukaan

Alkisah, seorang pendeta protestan meninggal dunia dan di pintu gerbang surga, ia di sambut oleh malaikat yang menghadiahinya sebuah mobil kijang innova. “ini hadiah buat pak pendeta karena selama hidup pak pendeta sudah melayani Tuhan.” Pendeta itu tersenyum dan berkata kepada malaikat itu: “kita bisa keliling surga dong naik mobil ini” “Oh tentu saja kalau memang pak pendeta mau itu

Sewaktu mereka mulai berkeliling surga naik kijang innova tadi, tiba-tiba ... Wuzz ... sebuah mobil honda CRV mendahului mereka. “Wah .. kenapa ada yang dapat CRV sedang aku Cuma Innova?” tanya pendeta itu. “Oh .. itu pendeta karismatik, maklumlah .. kan dia kalo lagi pelayanan tepuk tangan gitu ... lebih capek dia di banding kamu kalo lagi pelayanan”.

Tak berapa lama kemudian ... Wuzzz ... Wuzzzz .... sebuah mobil BMW melaju kencang mendahului mereka. “nah tuh, sapa lagi tu orang ... kok bisa dapat BMW gitu sih??” “Oh .. itu pastor katolik pak ... kasihan kan selama di dunia dia gak punya istri, jadi wajarlah kalo dapat lebih bagus dari kamu di sorga ini

Okelah kalo begitu” kata pendeta itu tanpa bisa banyak bicara. Tapi satu lagi mobil membalap mereka .... Wuzzz ... Wuzzzz .... Wuzzzz .... Wuzzzz ... Saking cepatnya mobil itu melaju kencang, pak pendeta itu sampai bertanya-tanya “naik apaan tuh orang, kencang banget???” “Oh .. itu Rabi Yahudi naik Ferari pak” “Kok bisa sih dia di kasih mobil ferari di sorga ini?” “Yah pak .. mau dibilang apa atuh ... namanya juga famillinya Bos kita dia”.

II. Penjelasan Bahan

Ilustrasi tadi sebenarnya hanya mau menggambarkan bahwa siapa saja orangnya bisa mengalami apa yang menjadi tema kita hari ini: Iri Hati!

Tapi apa sebenarnya iri hati itu? Iri hati adalah ketidakmampuan seseorang dalam mensyukuri berkat Tuhan di dalam dirinya, sehingga ia selalu membandingkan dengan orang lain, tidak puas akan apa yang ia miliki dan ia terima dari Allah.

Dalam teks kita dibandingkan dua buah situasi hati: Hati yang tenang dan hati yang iri. Yang satu menguatkan sedangkan yang lain membuat kita lemah.

Nampaknya memang tidak mudah memiliki hati yang tenang, manusia cenderung memilih untuk ‘menikmati’ suasana iri hatinya padahal itu melemahkan dirinya sendiri! . Lihat saja bagaimana seseorang yang: Iri hati karena orang lain lebih sukses dalam pekerjaannya, bisa melemahkan “tulang” tangan dan kaki, karena dengan tangan dan kaki kita bekerja. Iri hati karena orang lain lebih pintar akan melemahkan “tulang” otak, karena dengan otak kita memikirkan segala sesuatu. Iri hati karena rumah tangga orang lain lebih bahagia akan melemahkan “tulang” rusuk. Iri hati karena orang lain lebih maju akan melemahkan “tulang” punggung dan membuat kita kian tidak berdaya.

III. Membuang Hati yang Iri

Tantangan terbesar bagi kita sekarang adalah bagaimana kita bisa membuang suasana hati yang iri itu jauh-jauh dari kehidupan kita di masa kini. Bukankah memiliki hati yang tenang adalah syarat bagi kita dalam menghadapi beratnya tantangan hidup di masa yang sudah serba susah ini.

Sekarang, mari kita diskusikan bagaimana caranya agar kita bisa membuang iri hati itu dan mengupayakan ketenangan hati dalam hidup kita ini.

Pokok Diskusi
  1. Menurut saudara/i, mengapa seseorang bisa mengalami suasana hati yang iri dalam menjalani kehidupan ini?
  2. Bisakah kita menemukan kelemahan-kelemahan (atau kekuatan, bila ada) ketika seseorang memilih untuk iri hati?
  3. Bagaimana caranya supaya kita sebagai orang percaya tetap selalu memiliki hati yang tenang dalam menyikapi berbagai tantangan hidup ini?

Pdt. Gerry Atje: The Story Of Us

Terima kasih sudah membaca renungan atau artikel lainnya di blog ini. Akan menyenangkan sekali bila kita saling membangun dan menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Untuk berlangganan artikel blog ini melalui email, sahabat bisa mendaftarkannya melalui kotak di bawah ini dan memverifikasinya melalui email. Salam hangat selalu, untukmu.